Lisboa369.com - Awal kepemimpinan Ganjar Pranowo di Provinsi Jawa Tengah banyak
menarik perhatian. Pasalnya, usai memenangkan Pilkada Jateng dan
menjabat sebagai Gubernur Jateng, politikus PDI Perjuangan ini melakukan
banyak terobosan, menuai kritik dan memunculkan kontroversial.
Kepemimpinan
awal selama 1,5 tahun ini membuat tiga orang jurnalis membuat buku
berjudul 'Kontroversi Ganjar' yang diterbitkan oleh penerbit Gramedia
dan diluncurkan Rabu (29/6) di Gramedia Amaris Jalan Pemuda, Kota
Semarang, Jawa Tengah.
Hadir dalam acara tersebut, Pakar
Komunikasi Politik Effendi Gazali, Budayawan Prie GS, Wartawan senior
Jawa Tengah Amir Machmud. Kemudian kolega, relawan serta beberapa
pejabat di lingkungan Pemprov Jateng dan para politisi seperti pengurus
DPP PDI Perjuangan Idham Samawi. Tampil sebagai moderator wartawati
senior Sonya Helen Sinombor.
Di mata suami Siti Atikoh Supriyati
ini, buku ini merupakan sebuah cermin introspeksi diri. Pasalnya, di
setiap halaman 'Kontroversi Ganjar', tertuang perjalanan yang dilihat
dari kacamata orang lain.
"Saya memang ingin ada pihak lain yang
memotret, menceritakan, termasuk mengomentari perjalanan 1,5 tahun saya
di Jateng. Dari sini, saya bisa lebih tahu, apa yang harus saya
pertahankan dan kurangi," ungkapnya usai Peluncuran dan Bedah Buku
'Kontroversi Ganjar' di Semarang.
Selain itu, Ganjar
juga ingin masyarakat bisa menilai, apakah selama dirinya memimpin ada
yang keliru dan menyimpang. Termasuk, ada beberapa cerita di dalam buku
yang memang memancing opini pembaca.
Seperti kisah cerita saat
Ganjar marah-marah atau dalam istilah Jawa 'ngamuk-ngamuk' di salah satu
jembatan timbang di wilayah Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Kemudian
melakukan proses lelang jabatan secara terbuka yang menjadi pusat
perhatian dan masih banyak lagi kebijakan lain yang memunculkan
kontroversi masyarakat Jawa Tengah.
"Memang seperti menuai dan
memunculkan kontroversi. Kalau baca buku ini, pasti ada yang merasa
senang, dan pasti ada yang senep juga," kelakar Ganjar kepada media.
Ganjar
mengaku menerima respons dan kritik dari beberapa tokoh dan pakar di
Jawa Tengah dan nasional umumnya. Salah satunya kritikan mengenai
pembangunan fisik yang kurang terlihat selama masa kepemimpinannya.
Bagi
Ganjar, pembangunan fisik sebagai upaya pengembangan daerah, bukan
prioritas utama. Pasalnya, semua orang bisa dengan mudah membangun asal
ada dananya. Karena itu, dia memilih untuk merancang pemerintahan yang
bersih. Di mana sesuai dengan tage line atau moto awal kampanyenya
'Mboten Korupsi
Lan Mboten Ngapusi'. Prioritas utama awal kepemimpinannya adalah
melayani masyarakat dengan cepat dan mewujudkan pemerintahan yang bersih
dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).
"Fokus saya ada di
situ. Itulah bentuk transparansi akuntabilitas, termasuk fungsi negara
dalam melayani masyarakat sebagai tuan pemerintah. Memang tidak begitu
kelihatan karena tidak bisa ditata dengan cepat. Butuh 2-4 tahun agar
bisa menjadi kultur baru dalam birokrasi," tandasnya.
Selain buku
perdananya 'Kontroversi Ganjar', ke depan dirinya ingin membuat buku
kedua yang lebih menggali isu-isu birokrasi di Jateng. Bagaimana politik
anggaran, relasi dengan netizen serta sosial media. Sampai pada
cerita-cerita di luar aktivitas kedinasannya sebagai orang nomor satu di
Jawa Tengah.
Pakar Komunikasi Politik Effendi Ghazali menilai
buku 'Kontroversi Ganjar' merupakan ringkasan perjalanan kepemimpinan
Gubernur Jateng yang patut disorot dan layak untuk disimak sehingga
menjadi tauladan. "Saya suka Pak Ganjar yang mau memberikan contoh,
bukan hanya memerintah saja. Sayang, dia terlalu emosional dalam
memecahkan masalah," ungkapnya.
Anggota DPRD Jateng Sriyanto
Saputro menilai, pada awal-awal kepemimpinan Ganjar, sebagai anggota
legislatif yang merupakan mitra kerja Gubernur Jateng sebagai pimpinan
lembaga eksekutif sosoknya adalah keras dan tegas.
Namun, seiring
perjalanan waktu dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini, diskusi dan
perdebatan terkait kebijakan dengan anggota DPRD Jateng bisa mengalir
dan dinamis. "Hal-hal semula jadi kemarahan, seiring waktu bisa kita
diskusikan dengan baik. Karakter masyarakat Jateng tidak to the point
atau keras perlu komunikasi," ujarnya.
Sriyanto yang juga
Sekretaris DPD Gerindra Jateng mengakui bahwa sebagai legislator dan
Ganjar sebagai eksekutif harus bisa saling mengoreksi dan mengontrol.
Apalagi, dengan pengalaman Ganjar pernah menjadi anggota DPR RI selama
dua periode sangat strategis untuk memberikan pendidikan politik
terhadap wakil-wakil rakyat yang duduk di kursi DPRD Jateng.
"Kami
juga perlu dikoreksi juga. Tapi pak Ganjar, sebaliknya dikoreksi juga.
Tebal kuping dan jangan tipis kuping, sensitif," papar Sriyanto.
Usai
peluncuran sekaligus bedah buku yang selama diskusi berjalan gayeng
ini, ratusan para penggemar, kolega dan relawan Ganjar Pranowo pun tidak
melewatkan kesempatan untuk berselfie ria. Juga mengantre meminta
tandatangan di buku 'Kontroversi Ganjar' dan diakhiri dengan berbuka
bersama dan makan malam di warung bakmi Pedagang Kaki Lima (PKL)
pinggiran Jalan Pemuda, Kota Semarang, Jawa Tengah.
Kami melayani pembukaan akun sbobet,ibcbet,ionclub,poker,tangkas
silahkan hubungi kami melalui:
Livechat : Livechat Lisboa369
Yahoo Messenger : cs_lisboa369@yahoo.com
Line : lisboa369
WeChat : Lisboa369
Pin bb : 2C061DC0
Skype : lisboa_369
WhatsApp : +66924855473