slide show

Image Hosted by UploadHouse.com" /> Image Hosted by UploadHouse.com" /> Image Hosted by UploadHouse.com" /> Image Hosted by UploadHouse.com" />
Selamat datang di blogspot lisboa369
Tampilkan postingan dengan label tukar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tukar. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Maret 2016

Nilai Tukar Rupiah Ke Dolar (AS) Tumbang


Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menurun pada perdagangan hari ini. Namun meskipun melemah, rupiah masih mampu bertahan di kisaran 13.100 per dolar AS.

Mengutip Bloomberg, Selasa (8/3/2016), rupiah dibuka di angka 13.130 per dolar AS, menurun jika dibandingkan dengan penutupan kemarin yang ada di angka 13.084 per dolar AS.
Sepanjang pagi hingga siang hari ini, rupiah berada di kisaran 13.106 hingga 13.166 per dolar AS. Jika dihitung sejak awal tahun, rupiah menguat 4,65 persen.

Berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah melemah ke 13.128 per dolar AS. Sebelumnya, BI mematok rupiah di angka 13.029 per dolar AS.
Dalam beberapa pekan terakhir, rupiah memang terus menguat hingga mencetak penguatan terbaik dalam enam tahun terakhir. Penguatan yang terjadi kepada rupiah ini karena adanya pelarian dana ke negara-negara berkembang akibat adanya spekulasi bahwa ekonomi China masih tertekan sehingga bisa memengaruhi perekonomian dunia.

Hingga kemarin, rupiah terus menguat selama 13 hari berturut-turut sehingga ikut mendorong penguatan di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Ekonom Mizuho Bank Ltd Singapura, Vishnu Varathan, menjelaskan penguatan tersebut lebih disebabkan spekulasi. Oleh karena itu harus diteliti lebih dalam lagi apakah rupiah memang seusai dengan fundamentalnya. "Harus dilihat apakah penguatan tersebut memang akan terjadi secara jangka panjang atau hanya instan," jelas dia.

Pemerintah Indonesia juga tidak berharap rupiah semakin perkasa karena harga produk dalam negeri kian mahal. Dampaknya, produk dalam negeri tidak bisa bersaing dengan produk negara lain.

"Tentu kita tidak ingin terlalu kuat di atas ‎fundamentalnya," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution.

Meski tak menyebut level fundamental rupiah, Darmin mengaku, penguatan kurs rupiah dipicu derasnya aliran modal masuk (capital inflow) dari para investor yang menilai Indonesia sebagai negara tujuan investasi yang menjanjikan.

"Secara global, kecenderungan negara maju menurunkan tingkat bunga. Rupiah walaupun turun, masih relatif tinggi, tapi pertumbuhan ekonomi kita dianggap tidak turun malah membaik. Sehingga para pemilik dana menganggap investasi di Indonesia menjanjikan, uangnya masuk ke sini dan rupiah menguat," jelas dia. (Gdn/Ahm)

Kamis, 03 Maret 2016

Nilai Tukar Rupiah ke Dolar Menguat

Berdasarkan data perdagangan Reuters, Kamis (3/3/2016), hingga pukul 17.04 WIB, dolar Amerika Serikat (AS) merosot ke Rp 13.170
Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah terhadap rupiah. Mata uang Paman Sam tersebut menyentuh level terbaru di kisaran Rp 13.100.
Dolar AS sejak pagi tadi memang sudah melemah. Di awal perdagangan, dolar AS dibuka melemah ke Rp 13.276, dibandingkan posisi sore kemarin di Rp 13.285.
Dalam sehari, dolar AS sudah melemah 106 poin terhadap rupiah.
Kepastian bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) masih ditunggu para pelaku pasar.
Ini menjadi salah satu acuan fluktuasi nilai tukar dolar AS terhadap rupiah.
Di samping itu, gejolak harga minyak dunia yang cenderung masih melemah juga membuat fluktuasi di pasar keuangan.

Rabu, 02 Maret 2016

Nilai Tukar Rupiah Menguat


Nilai tukar rupiah masih berada dalam tren penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa bulan terakhir.  Mata uang Paman Sam tersebut sempat turun hingga kisaran Rp 13.200. Berdasarkan data perdagangan Reuter, dolar AS sore ini ditutup di Rp 13.285.

Salah satu pemicunya memang datang dari kebijakan suku bunga negatif oleh Jepang dan Uni Eropa. Banyak investor yang kebingungan untuk menempatkan dananya agar tetap untung. Untuk saat ini pasar keuangan Indonesia menjadi pilihan.

Cerita ini hampir persis seperti yang terjadi pada beberapa tahun lalu. Saat AS juga memberlakukan hal yang sama. Indonesia ikut menikmati berkah, karena besarnya arus modal yang masuk membuat dolar AS turun ke level di bawah Rp 10.000.

Menko Perekonomian Darmin Nasution mengakui, ada pergerakan dana yang besar atau 'hot money' masuk ke Indonesia. Banyaknya dana asing yang masuk akan mampu membuat rupiah menguat. Namun, nilainya tidak seperti saat AS menempuh kebijakan tersebut.

"Sekarang walau Jepang melakukan hal yang sama dan beberapa negara Eropa melakukan hal yang sama, tetap berbeda. Karena Amerika itu kan uangnya sudah mendunia," ungkap Darmin, di Menara BTN, Jakarta, Rabu.

Ini juga sekaligus menghindari risiko pembalikan arus modal asing seperti yang terjadi pada 2013, akibat berubahnya kebijakan negara-negara tersebut.

"Nggak akan, karena sumbernya tak ada lagi kebijakan Amerika yang quantitative easing. Yang paling banyak arusnya itu karena AS melakukannya," terangnya.

Meski demikian, Darmin mengaku tetap terus waspada. Hot money tidak boleh dibiarkan terlalu liar masuk ke dalam negeri, mengingat risiko pembalikan yang bisa saja datang tiba-tiba. Solusi terbaik adalah suku bunga yang rendah.

Dengan demikian, maka imbal hasil dari berbagai instrumen pasar keuangan dalam negeri juga tidak terlalu tinggi dibandingkan negara berkembang lainnya. Investor juga tidak buru-buru membawa dananya.

"Kita jangan membiarkan tingkat bunga terlalu tinggi. Supaya ya jangan juga terlalu banyak arus datang karena terlalu banyak bedanya dengan bunga negara lain," tegasnya

Menurut Darmin, ada titik di mana berinvestasi di pasar keuangan dalam negeri tetap menarik. Mengingat pembiayaan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih membutuhkan dana asing.

"Sampai tingkat tertentu, itu tinggal mencari titik yang betul," kata Darmin.

Pada sisi lain, pemerintah mengarahkan agar investor melakukan investasi langsung pada sektor rill. Jenis investasi ini tentu lebih rendah risiko dibandingkan dengan pasar keuangan.

"Kalau FDI itu nggak usah khawatir, kalau sudah menjadi gedung kan ya nggak bisa dibawa pulang," pungkasnya.